Cara Menjadi Full-Stack Developer Dalam 3 Minggu

Apa yang Harus Dilakukan untuk Menjadi Full-Stack Developer?


Sebagai designer untuk memasuki dunia industri tentunya memiliki tantangannya sendiri yang semakin hari semakin kompleks permintaannya, dengan kondisi yang dinamis permintaan industri yang menuntut kita untuk bergeser ke devices dan bahasa pemrograman yang populer dan banyak digunakan.

Bahkan jika dibayangkan coders, dahulu dengan satu bahasa pemrograman saja yang digunakan software engineer dapat menyelesaikan sebuah aplikasi tetapi tidak dengan sekarang, developer dituntut untuk tahu berbagai teknologi dari berbagai stage yang akan berdampak pada si programmernya dalam menyelesaikan pekerjannya dengan baik.


Apa yang dimaksud dengan Full-Stack Developer ?


Pernahkan sahabat coders bekerja pada suatu bahasa pemrograman misalnya kita akan membuat sebuah tampilan site dengan menggunakan bahasa pemrograman html, selain kita membuat kerangka websitenya ternyata kita juga harus bisa membuat desain atau tampilannya bisa kita menggunakan programming altering photograph dan juga kita haru mengkonversikan desain tersebut ke dalam bentuk kode front-end. Dengan demikian inilah yang sering diistilahan Full-Stack Developer.

Istilah full-stack designer berarti engineer yang nyaman bekerja dengan teknologi back-end dan front-end. Lebih spesifik lagi, designer bisa bekerja dengan database, PHP, HTML, CSS, javascript dan juga bisa mengkonversi desain programming altering photograph ke kode front-end.

Apakah seorang Full-Stack designer harus menguasai semua hal dan teknologi ?


Untuk menjadi seorang full-stack designer tidak harus menguasai semua hal dan teknologi yang dia perlukan untuk bekerja, karena itu suatu hal yang mustahil. Dia hanya perlu merasa nyaman bekerja dengan teknologi-teknologi tersebut dan itu cukup banyak untuk dipelajari.

Teknologi yang diperlukan Full-Stack Developer


Baiklah coders, mari kita bahas satu per satu teknologi utama apa saja yang diperlukan full-stack designer sekarang untuk bekerja :

System Administration


  1. Linux dan essential shell scripting
  2. Distributed computing: Amazon, Rackspace, and so on.
  3. Foundation handling: Gearman, Redis
  4. Inquiry: Elasticsearch, Sphinx, Solr
  5. Reserving: Varnish, Memcached, APC/OpCache
  6. Checking: Nagios

Linux digunakan di sebagian besar Internet, secara umum menjadi sistem operasi di pengembangan web, seorang full-stack designer sebaiknya tahu cara kerja cloud facilitating seperti Amazon, Rackspace, atau penyedia lainnya, beserta API-nya.

Pencarian menjadi bagian yang tidak terpisahkan di sebagian site. Seorang designer sebaiknya harus tahu cara menyiapkan dan menggunakan server pencarian seperti sphinx atau elasticsearch.

Reserving juga penting, seperti Varnish, turn around intermediary, Memcached, dan opcode storing. Designer harus tahu hal-hal tersebut dan bagaimana cara menggunakannya.

Web Development Tools


  • Form control: Git, Mercurial, SVN
  • Virtualisasi: VirtualBox, Vagrant, Docker

Sekarang, sudah menjadi hal yang wajib untuk menggunakan form control, meskipun coders adalah solo web designer. Dengan didukung virtualisasi, mempunyai banyak lingkungan pengembangan per proyek sangat bagus untuk dimiliki dan sangat mudah untuk mengaturnya dengan VirtualBox dan Vagrant. Jika ingin bekerja dengan Vagrant, designer juga harus tahu sintaks dasar dari Ruby dan skrip shell.

Back-End Tech


  1. Web servers: Apache, Nginx
  2. Programming dialect: PHP, NodeJS, Ruby
  3. Database: MySQL, MongoDB, Cassandra, Redis, SQL/JSON secara umum.

Apache and Nginx adalah web server yang banyak digunakan oleh web engineer. Seorang full-stack engineer harus tahu cara mengatur aplikasi-aplikasi ini untuk melayani konten websitenya.

PHP hal yang harus dikuasai di tingkat tinggi, sementara NodeJS, Ruby baik juga untuk diketahui.

Baca juga: Tips Memilih Bahasa Pemrograman Backend untuk Dipelajari

Sebagai tambahan, manajemen basisdata juga menjadi syarat untuk seorang web engineer. Perbedaan database relasional (seperti MySQL, PostgreSQL) versus non-relasional database (MongoDB, Redis, Casandra) adalah hal yang perlu diketahui, selain sintaks XML/JSON.


Front-End Tech

  1. HTML/HTML5: Semantic web
  2. CSS/CSS3: LESS, SASS, Media Queries
  3. JavaScript: jQuery, AngularJS, Knockout, and so forth.
  4. Similarity peculiarities crosswise over programs
  5. Responsive structure
  6. AJAX, JSON, XML, WebSocket

Metodologi dan system baru terus bermunculan tiap hari, mulai dari MVC, MVVM, MVP, Angular, Knockout, Ember, dll.

Selain HTML, CSS, JAvascript, seorang full stack engineer sebaiknya harus tahu tentang responsive website composition dan bagaimana bekerja dengan media inquiries dan CSS preprocessors seperti LESS dan SASS.

Komunikasi dengan back-end by means of AJAX atau WebSocket juga penting untuk dipelajari.

Structure

  1. Changing over web composition into front-end code
  2. UI
  3. UX

Selain teknologi front-end, seorang full-stack engineer juga harus paham apa yang mungkin bisa dibuat dan apa yang tidak dengan keterbatasan akan HTML/CSS/Javsacript dan menkonversi desain dari record programming altering photograph.

Dengan banyaknya teknologi yang telah disebutkan diatas, engineer bisa saja tidak harus menggunakannya, seperti Ruby atau lebih spesifik lagi pustaka Javascript. Akan tetapi, semua hal tersebut saling berhubungan dengan yang lain satu sama lain.

Sebagai contoh, jika kita ingin menyiapkan Vagrant, kita harus tahu sintaks Ruby. Jika kita ingin memanipulasi elemen DOM, Jquery menjadi hal yang wajib dipelajari.

Kategori lain yang perlu disebutkan adalah versatile advances. Portable innovations merupakan industri yang sangat dinamis dan sangat erat kaitannya dengan web advancement:
  • iOS
  • Android
  • Cross breed: Phonegap, Appcelerator

Salah satu disparitas terbesar saat ini adalah antara pengembangan web dan versatile. Tetapi perbedaan tersebut semakin hari semakin tidak ada. Seorang full stack engineer sebaiknya juga tahu akan teknologi ini.


Apakah lebih baik menjadi seorang Full-Stack Developer ?


Jika coders ingin menjadi seorang full-stack engineer berarti harus mempunyai pikiran yang terbuka akan teknologi baru, harus bisa menggunakan setiap teknologi yang telah disebutkan diatas, dan harus mengerti bagaimana sebuah aplikasi dibuat, mulai dari konsep hingga menjadi produk jadi.

Ide seorang "full-stack engineer" bukan berarti harus ahli, terbiasa akan semua teknologi yang ada karena spesialisasi ada untuk alasan tersebut. "full-stack engineer" lebih kepada pengertian akan setiap zone dan teknologi yang telah disebutkan diatas, bisa berkomunikasi dengan baik dengan rekan kerja, dan bisa menjadi aset yang berguna jika memang situasi memerlukan akan pengetahuan tersebut.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel